Kamis, 19 Mei 2016

..menghitung mundur

Teruntuk orang-orang yang menyisakan ngilu ketika kita sebentar lagi tiada..Aku tidak berharap kau melihat tulisan ini, aku cukup tahu diri.

Entah kenapa hari ini aku sangat merindukanmu senja, asal kau tahu.. aku selalu merindukanmu. Aku selalu tersenyum dari jauh melihatmu, meski bukan disisiku,. meskipun disisi mereka, yang dulu bagimu tak ada artinya.
Tapi sekarang aku tahu,, akulah yang tidak pernah ada artinya. Kadang aku mengajak kopi dan matahari berbincang.. sembari mengumpulkan retakan"mu, yang kau sembunyikan dan lebih menyakitimu lagi. Aku yang mengumpulkannya senja,semua itu ada padaku.
Serapahi aku senja,serapahilah ribuan kali, asalkan itu membuatmu bahagia,tersenyum dan tertawa.. aku tidak keberatan menjadi olok-olok. :')
aku hanya merindukanmu,itu saja. kau tidak akan pernah lagi disisiku, aku tahu benar. semoga kau bahagia dengan jalan yang kau pilih.. sampai saat ini, tempatmu bagiku, masih sama..

suatu hari nanti kalau kau lelah. aku masih ditempat yang sama. kau tak perlu meminta untuk maafku..

Selasa, 06 Januari 2015

Almost paradise



Langit
“Bagaimana aku memberitahumu Luna, bagaimana aku memberitahumu?” lirih kukatakan pada angin basah yang menghembus di ujung rambutku. Bagaimana harus kucegah kau menari bersama hujan agar aku tak mencintai tawamu Luna, mencintai tarian kebebasanmu bersama rinai air langit? Bagaimana memberitahumu aku mulai putus asa mencintai tawamu? Sebulir bening panas menggelinding dari mataku, dan kubiarkan dia mendenting bersama ribuan denting angkasa yang jatuh berurai.
Dingin, bau tanah basah menggemeretakkan tulangku, menyempurnakan erang sakit di ulu. Sementara balkon kampusku mulai basah, aku sama sekali tak berniat menjauh dari sana. Meskipun angin garang mendobrak pintu dan jendela kaca hingga menimbulkan bunyi derak di belakangku, namun aku tak bergeming. Aku berdiri mematung menatap seorang gadis di lapangan basket kampusku, menari riang ditengah derasnya jejarum dingin ini.
Dia, yang menari riang disana itu, yang sedang tertawa disana itu, adalah hatiku. Pemandangan indah itu tak lantas membuatku mampu menjulurkan tangan menari bersamanya, aku tidak bisa. Aku hanya akan duduk disini memandanginya seperti melihat seluruh kebahagiaan tengah dihamparkan Tuhan kepadaku.
Karna sepersekian detik kemudian sebuah bayangan merenggutnya kedalam pelukan. Menghangatkan gigilnya yang rontok berdenting. Kemudian membawanya pergi, entah kemana. Ada ngilu yang melengking dihatiku setiap kali bayangan itu merenggutnya dari pandanganku, ada sengat panas yang menjalariku. Aku membenci bayangan itu.

Asa
Aku mencintai gadis hujan ini, yang tiap kujemput ia dari sasana tarinya, ia akan segera lumat dalam pelukanku, menjadi kanak-kanak yang selalu ingin dewasaku. Membuatku selalu ingin jadi teduh baginya, menjadi arang yang menghangatkan gigilnya dalam dekapku. Aku ingin mendekapnya setiap waktu, tapi dia berkata padaku sasana tarinya adalah lagu yang akan ia mainkan berminggu-minggu hingga musim ini selesai, dan aku harus menunggu.


Luna
            Hari ini hujan turun lebih deras dari kemarin. Kenapa aku merasa akhir-akhir ini hujan merontokiku dengan runcing dinginnya tanpa ampun? Dulu sasana tariku tidaklah sederas ini, hanya rinai yang pecah, lembut menyentuh pipiku, kulitku, dan setiap rongga yang kubuka akan ia aliri damai yang indah, membuatku menari dengan riang seperti kanak-kanak yang merayakan hujan bulan Juni.
Tapi kini tetesnya membuat kulitku memerah, seperti menusukiku dengan ribuan pertanyaan mengapa dari seseorang yang tidak kutahu. Mungkin bayangan yang sekelebat tertangkap mataku menjadi penonton tunggal tarian hujanku. Aku tidak tahu.
            “Hey Asing, pertanyaan apa yang kau titipkan pada hujanku?” kataku lirih
            Untunglah Asa-ku selalu hangat untukku bergelung dalam dekap saat gigil begini. Matanya begitu hangat sampai aku merasa tubuhku melumat jadi cairan yang membasahi kemeja dan celana panjangnya. Menatapku dengan tatap semesta ia berkata tinggallah dalam dekapnya lebih lama, dan itu tak pernah mampu kutolak setelah sasanaku hilang ditelan kabut.
***
“Baiklah teman-teman, tema apa yang akan kalian angkat untuk lomba cerpen minggu ini? Ada ide menarik?” Ucap Langit memulai percakapan pada beberapa anggota redaksi majalah kampus.
“Apa saja deh yang Luna nggak ada ide nulisnya. “ jawab Embun sambil nyengir kuda kearah Luna.
Sementara itu, Luna justru melamunkan bayangan tanpa nama yang sekelebat tertangkap pengelihatannya. Bayangan itu seperti sosok yang dia kenal, dekat, tapi tak tersentuh. “Wajahnya benar-benar diselamatkan derasnya hujan.” Gumamnya.
“Luna? Gimana pendapatmu?” Langit mengulangi pertanyaannya.
“Eh, anu Lang emm.. bayangan itu punya nama. “ jawab Luna sekenanya, seperti apa yang terlintas dipikirannya waktu itu, bayangan seorang penonton di sasana tarinya. Air mukanya merah padam, mati kutu ketahuan melamun oleh pemimpin redaksinya yang garang itu.
Langit terdiam, pucat, matanya sembab kemudian perlahan berair. “Dia tahu ada seseorang di sasana tarinya..apa dia sadar itu aku?” batinnya
“Apa itu judul dari tulisan yang nggak akan bisa kau buat dengan kata-kata maha indahmu Luna? Percuma saja kalau kau lagi yang menang.“ Embun menyelidik memastikan, masih dengan senyum lebar seperti iklan pasta gigi.
Luna menunduk pasrah mengamini Embun, menyesali kata-kata yang meluncur jatuh dari bibirnya sendiri.
“Ehmm.. tema yang menarik, terasa sangat luas makna. Ada yang lain mungkin?” pangkas Langit tiba-tiba.
Semuanya terdiam, baru kali ini Luna bersikap sedemikian dingin. Biasanya dia akan menarik-narik tangan Embun ke rapat redaksi, paling menggebu-nggebu memaparkan banyak ide gila yang seakan sudah ia beri nomor urut rapi di kepalanya sehingga urutannya tak tertukar dan mampu ia jelaskan runut hingga orang-orang akan menatapnya dengan muka kaku sementara mulut mereka membentuk bulat o besar sempurna.
Langit kian panik melihat sikap Luna yang tak seperti biasanya, jantungnya berdegup lebih kencang dari sebelumnya.
“Gusti.. tolong jangan biarkan ia tahu..” pekiknya dalam hati. “Aku telah mencoba menjamah cinta yang dimiliki oleh orang lain.. Oh Gusti, apakah Kau akan mengutukku? Bagaimana mengatakan padanya agar ia tak lagi membuatku jatuh cinta pada tawanya, tarian hujannya.. Oh Gusti, apa yang harus kulakukan?”
Tanpa sadar jemari Langit sudah meremas dadanya sendiri. Berharap hatinya memperlambat degupnya agar tak ada yang mendengar dentuman yang terasa sakit memukul-mukul dadanya.
“Mas Langit, jadi bagaimana?” Embun merasakan gelagat aneh pada pemrednya itu.
“Tunggu sebentar, saya mau ke kamar mandi dulu. Embun, teruskan rapatnya ya?” pesan Langit sebelum ngeloyor pergi dari sana.
Didepan cermin Langit melihat wajahnya sendiri yang tidak berdaya didepan seorang gadis penari hujan yang ia beri nama ‘hatinya’. Air matanya menetes satu-satu menggelinding dari pelupuk.
“Bagaimana aku memberitahumu Luna,, tolong jangan membuatku mencintai tawamu..” lirih, kata-kata itu menggantung dipantulkan gaung ke sudut-sudut hatinya, membuatnya semakin terasa menyakitkan. 
Sementara itu Luna masih mematung, mengamini seluruh kata-kata Embun tanpa tapi. Hasilnya bisa ditebak, tema itulah yang menjadi kesimpulan rapatnya.
Luna menarik nafas dengan berat.. “Seandainya..” batinnya.
***

“Hey alienku yang cantik.. waktunya pulang sayang. “ suara lembut itu mengagetkan lamunan Luna, membuatnya merasa bersalah. Asa mengulurkan tangan membantunya berdiri lalu menggenggam jemarinya sambil berjalan.
“Sayang, bisa antar aku makan? Aku lapar. “ kata Luna kemudian.
Isyaratnya terbaca oleh Asa. Asa membelainya dengan sayang lalu tersenyum, kendaraan itupun melaju, membawanya ke sebuah warung makan sepi.
Setelah memesan, keduanya duduk berhadapan.
“Ada apa sayang?” kata Asa kemudian.
“Sa, bagaimana jika ada orang lain yang menyayangiku.. Apakah itu akan menyakitimu Sa?” jawab Luna langsung pada inti masalah.
“Aku tidak keberatan, selama kau memberiku utuh hati seperti sebelumnya. Aku bisa apa padanya? Membunuh perasaan orang lain? Itu nggak mungkin Lun..” kata Asa sembari mengusap kepala Luna dengan sayang, menyembunyikan perih yang tiba-tiba merobek hatinya. Ia ingin bertanya siapa, dimana, oleh karena apa, dan sejak kapan ada orang lain yang mengusiknya tapi urung dilakukannya.
“Bagaimana denganmu Lun?” katanya parau.
“Apanya Sa? Aku sudah berjanji menikah dengan seseorang empat tahun lagi. Maaf saja. “ celoteh Luna pada Asa. Senyumnya mengembang, tulus dan manis sehingga Asa terlupa robek perihnya barusan. Senyum itu, memang benar karna senyum itu,. Ia mengerti alasannya, senyum itu memang hanya Luna yang memilikinya, senyum yang menyihirnya dari begundal menjadi petapa, yang tiap hari mondar-mandir masjid dan berkata iya pada setiap ucap Luna. Hanya karna senyuman itu.. hanya karena hal sesederhana itu.
Ditatap lekat-lekat perempuan-nya itu dengan tatap sayang. Wajah yang tengah berbinar melahap makanannya seperti kuli bangunan istirahat kerja itu, masih terlihat begitu manis. Apalagi saat sesekali mengerling padanya dan menyuapinya dengan nasi yang langsung membuat pipinya menggelembung saking penuhnya.
***
Bidadari pertama Luna
            Siang itu, jam berdetak kencang menempel di dinding. Luna masih asik melanjutkan lukisannya di ruang kuliah, sementara teman-temannya yang lain ngopi dan mengisi perut di kantin kampus. Bahkan Asa, pun sedang asik memainkan tuts hitam putihnya diruang musik. Sebenarnya Asa sudah memintanya ikut serta, tapi ia lebih memilih menenggelamkan diri dengan lukisannya, lukisan bidadari tanpa wajah.
            Diruang kuliah itu AC disetel pada suhu 17o Celcius, pantaslah jika orang didalamnya merasa kegigilan. Seorang teman Luna mengambil remote dan menaikkan suhunya beberapa derajat sehingga ruangan itu menghangat. Oya, seorang teman Luna juga ada diruangan itu, berdiam diri. Entah kekalutan apa yang sedang ada dipikirannya. Dia hanya diam sembari duduk disamping kursi Luna.
            “Gambar apa Lun? Asa kemana?” katanya memulai percakapan.
            “Menggambarmu Senja, kau tidak sadar ini mirip denganmu?” jawabnya sambil tersenyum simpul. “Asa di ruang musik.”
            “Hahaha kamu ini Lun, gimana jadi aku sementara gambarnya nggak ada mukanya begitu.” Tawanya mendengar jawaban Luna.
            “Justru itu. “ jawabnya penuh arti. “Bukankah bidadari yang kita temui selama hidup ada banyak? Aku sampai bingung bagaimana melukisnya. Jadilah kulukis begini saja Senja. Jadi, setiap kamu melihatnya, kamu bisa membayangkannya menjadi wajah siapapun yang kamu mau. “ katanya sambil tersenyum.
             Kata-kata yang tiba-tiba melesak sakit di hati gadis itu. Lesakan  yang menyakitkan hingga garis senyumnya seketika lenyap.
            “Lun..” kalimat Senja kali ini tercekat.
            “Ya? “ Luna yang sedari tadi terfokus pada kertasnya memutar kepalanya ke sosok disampingnya itu, bola matanya membesar.
            “Apa bidadari itu juga serupa dengan seorang lesbian?” kata terakhir yang diucapkan Senja terdengar bergetar.
            Luna terdiam, dia kaget bukan main hingga dadanya berdegup kencang sekali. Luna tidak tahu apa-apa soal ini, ia juga tidak mengerti jawaban pertanyaan sahabatnya itu.
            “Senja, aku tidak tahu..” katanya lirih “Pertanyaanmu itu..”
            “Kenapa Lun, kamu langsung aja bilang nggak serupa, nggak pernah bisa diserupakan..”
            “Aku..hanya melukis apa yang ada dalam pikiranku.”
            “Bidadari yang ada dipikiranmu itu berambut panjang, bergaun panjang dan perempuan baik-baik bukan?” kata Senja menambahkan “Bidadari yang melahirkanku sudah keriput, rambutnya tak karuan, dan bahkan sudah beruban.. Anak-anak para pelacur juga masih menyebut ibunya bidadari. Padahal mereka, tidak serupa dengan apa yang kamu lukiskan tentang seorang bidadari. “
Luna merasa kalah telak. Apa yang dilukisnya tidak menggambarkan siapapun kecuali sebentuk rupa kesempurnaan seorang wanita. Ia menatap lukisannya lekat-lekat. Ia merasa apa yang dikatakan sahabatnya itu benar adanya.
“Senja, aku keluar sebentar..” ia membawa serta lukisan-lukisannya keluar ruang kuliah, berjalan melewati kelas multimedia lalu berdiri didepan tong sampah.
“Aku akan membuang semua sampah ini, aku harus menemukan sendiri bidadari-bidadari untuk pameran sketsaku, aku tidak akan menciptakannya dari imajinasiku.”
Luna mengusap bekas bulir air mata yang jatuh menimpa lukisannya. Luna tersenyum sebelum ia memasukkan seluruh lukisannya ke tong sampah kemudian berlalu pergi. Sementara tak jauh dari sana Langit mengamatinya dari balik pintu ruang kelas multimedia, memastikan Luna sudah benar-benar berlalu sebelum memunguti lukisannya. Tersenyum, ia melihat satu-persatu goresan Luna yang seakan hidup dan bercerita kepadanya bahwa sang pembuat telah mencampakkan mereka.

Rabu, 19 Juni 2013

"atau senja"


               "Aku ingin melumatmu, mengepingkanmu hingga kau mampu kuresapkan bak udara yang mengambil alih beberapa sulur jasadku, memompakan nafas untukku.. Hingga, ada secuil kuat disana, bukan rapuh dan lubang dimana-mana. Hingga, sesobek ini bisa kunamai ada, bukan bias ganjil yang merontokiku dengan gigilan hebat bernama tiada."

             Terlalu banyak yang kucuri dari sekeping pengelihatanku pada ujung matamu, dan karna itulah aku mengerti apa yang kau mau. Tak ada jawab tentang mengapa dan kenapa hingga kau merebahkan kelopak mata, kusut mencari jawaban dan puas dengan gaung di malam buta. Terlalu banyak yang kusunting dari imajimu, hingga sepertinya kau mampu bersenyawa denganku dalam beberapa denting waktu.

              Aku juga orang yang sama, aku sejatinya hanya miliki seonggok daging tumbuh ini, yang juga mengerjap menarikan kegelisahan dan getir kosong dalam ambang batas.. dan dengan cepat aku mengenali siapa yang berdiri mencabik-cabik jingga senjaku..lalu mengamitku untuk menyatukan kepingan itu menjadi benda bulat utuh yang memenuhi langit dengan bercak merah.. lalu memandanginya seakan kau tidak pernah mencabiknya dan menyatukannya bak puzzle bersamaku..

              Jangan katakan pada semesta seberapa kerontang senjaku ini, biar semesta selalu percaya indahnya kala bercumbu dengan pantai, dengan pucuk-pucuk pepohonan... jangan katakan bagaimana kau meminta senja pada malam buta, agar sekali lagi meleleh dalam pengelihatanmu, mengguratkan simetris gurat bibir bernama selarik senyuman, ya sekali lagi... jangan katakan pada semesta...

                   Terlalu banyak yang kucuri dari sekeping pengelihatanku pada ujung matamu, dan karna itulah aku mengerti apa yang kau mau. Tak ada jawab tentang mengapa dan kenapa hingga kau merebahkan kelopak mata, kusut mencari jawaban dan puas dengan gaung di malam buta. Terlalu banyak yang kusunting dari imajimu, hingga sepertinya aku mampu bersenyawa denganmu dalam beberapa denting waktu..
                       
                      ...yang kutahu saat ini.. muara dimatamu, atau senja.. sama saja. 

senja. :)



Senin, 27 Mei 2013

Sore ini, bersamamu...

       Sore ini di kolong senja, aku bercakap bersama bulir dingin yang mulai merontokiku dari langit. Mendongak keatas, mengawang memandang kelabu diatas ubun-ubun. 

Hari ini aku terbangun dengan sesak yang memenuhi hati. Ya, rongga kecil itu penuh genangan kecewa.. Entahlah, terlalu abu bagiku mengurai sesak itu, dan aku dengan segera meretakkan diriku sendiri ketika sekali lagi mengingatnya. Mataku mengerjap lalu tertutup rapat, menahan linang itu jatuh. Sementara telapak tanganku mengelus dada, aku tahu hati tak terletak disana, tapi bagian rongga itu membuatku menanggung perih.. perih yang teramat sangat.
        Memandang sekeliling, yang tersisa hanya aku dan bayangan. Siluet hitam yang membersamai ujung kakiku setiap waktu. 

        Aku menelan ludah, sedikit tercekat di tenggorokan, menyadari bahwa hanya hitam itu yang tersisa disini, disini bersamaiku. 
 "Hey, apa kau juga merasakan bulir dingin ini? Apa kau beku? " aku bertanya padanya dengan lirih, nyaris tak terdengar.

-- ia mengangguk.. dan aku mengelusnya dengan sayang --

"Terima kasih untuk tidak lelah,. kau sudah berjuang lebih dari cukup untuk membuatku bertahan hingga kemarin, dan hari ini.. kurasa ini bonus untukku. Kau sudah mengusahakan yang terbaik, dan sama sekali tak mengeluh.."  aku mengusap kepala hitam itu, rambutnya rontok memenuhi genggamku, aku tersenyum.

"Aku tahu kau benci menahan gigilan sakit ini sekali lagi, aku tidak akan memaksamu kali ini, nanti kau malah berdarah lagi.. Sudahlah, ayo kita pulang... " rambutnya terkibaskan gerak lembut angin disekitarnya, sepertinya ia enggan beranjak.

"Tidak ada yang harus kau pikirkan lagi. Larunglah semuanya. Ini sudah waktunya kau ikut bersamaku, pulang.." bujukku sekali lagi.

--dia masih diam saja--

Ada anyir yang mengalir dari hidungnya, merah pucat yang agak kental. Kurasa dia dalam keadaan tak baik, sayangnya aku tak bisa melihatnya memucat.

--anyir itu membasahi kemejaku--

"Dengar, kau sudah cukup memberi.. sudah cukup. Tentang bagaimana kau dalam kenangan banyak orang, tak perlu kau khawatirkan. Langit melihatmu dengan utuh,. Aku menangkap isyarat itu, jadi sudahlah. Mari kita pulang." ucapku dengan nada memaksa.

--dia masih tak menjawab juga--

"Hey, kau dungu atau apa sih? Sudah kukatakan bukan? Sadarlah bahwa kau hanya memilikiku! Kalau kau tidak pulang, aku hanya akan jadi jasad ! Jiwa, kumohon.. jangan mengalirkan benda anyir ini lagi tiap kali kau terkoyak. Kau sudah cukup menderita!! sudah cukup.. Terserah pada mereka yang tak peduli, yang tak mengerti. Persetan dengan mereka semua!!! Kau dengar itu???  Secuil saja hidupmu mereka rasa, itu sudah cukup menyumpal bual besar mereka. Lalu untuk apa kau disini??  Ayolah,.. jiwa, ikutlah pulang bersamaku...."  dengan susah payah kali ini, aku memakinya. Tetesan derai itu mengaliri wajahku, aku benar-benar ingin dia pulang bersamaku. Satu-satu menghitung sisa kesempatan dalam dentum waktu.. aku hanya ingin dia pulang bersamaku....


Aku memeluk lututnya.. memeluknya erat,,.

"..pulanglah..."
                                                                               Yogyakarta, 27 Mei 2013

                                                                    for me,.. you just need your own. remember it starting now....



Jumat, 26 April 2013

ketika Kau mendekap seperti dingin yg menggerus,. ketika Kau menjadi muara jawaban seluruh tanya,.

Hari ini, seorang ulama berpulang padaNya, Ustad Jefry Al Bukhory. Diantara riuh ucap belasungkawa yang berderet di bermacam jejaring sosial, saya hanya terdiam begitu lama..

 "Qullu nafsin dzaa iqotul maut..." lirih  saya lafadzkan.

 "Betapa bahagia beliau telah bertemu dengan Dzat yang selalu beliau rindukan.. Penantian panjang itu usai sudah, dan beliau sudah sampai pada ujung kisahnya,. kisah yang sungguh indah. Beliau akan segera tau bagaimana ia akan dikenang. Perpisahan yang menyisakan jejak gores yang indah untuk banyak orang." ucap saya di dalam hati

          Kebanyakan orang, menganggap kematian adalah akhir. Bukan,sebenarnya bukan seperti itu. Kematian adalah gerbang menuju fase perjalanan berikutnya, bahwa sejatinya hidup hanyalah satu fase, bukan keseluruhan alur. Ibarat buku, hidup hanyalah salah satu bab paling penting yang menentukan epilognya.
           Teringat sebuah video gaza, tentang seorang anak yang menantang tentara israel dengan  bebatuan kecil ditangannya, sedangkan tentara itu mengacungkan laras panjang tepat di kepala kecil itu.

"Rabbku... keberanian macam apa yang dimiliki anak itu hingga menjemput mautnya sendiri??" saya sibuk mencari siapa yang harus disalahkan, mengapa israel begitu kejam, dan sebagainya.

...tapi apa yang saya lakukan beberapa jam selanjutnya?

..saya berani menunda shalat, sungguh.. saya dengan sengaja telah meremehkan perjumpaan saya denganNya... saya selalu membuatNya menunggu...
seperti itukah keberanian saya? haruskah saya menyumpal mulut atas serapah saya tentang banyak hal yang  saya pikirkan sebelumnya? tentang siapa yang harus disalahkan, kenapa begini dan kenapa begitu..??

"Duhai Rabb yang jiwaku ada dalam genggamanMu... betapa Engkau terlalu berbaik hati menutupi aibku saat mulutku terus mencerca... Betapa Kau cintai aku bahkan saat kubuat Kau menunggu berhadap-hadapan denganku... Wahai Dzat yang menggariskan alur kisah dalam lauhul mahfuz... bagaimana aku mampu mendongakkan kepalaku padaMu?"

Maut .. apa yang antum pikirkan ketika terhenti pada kata ini?

"Aku.. kalau aku, aku membencinya, membencinya karna maut akan memisahkanku dari apa-apa yang aku cintai, membuatku meninggalkan seluruh pkerjaan yang belum usai, dan rencana yang belum sempat kuwujudkan.. aku membencinya karna maut membuatku tak mampu tenangkan isak keluargaku, bahkan tak sedikitpun aku mampu menyentuh bening air mata mereka...

tapi aku begitu mencintaiNya,. aku merindu di dekap olehNya.. tak ada yang harus kurisaukan setelah aku bersamaNya..
tapi untuk menemuinya aku akan merasakan begitu sakit,. kesakitan yang kunikmati karna Nya.. 
karna aku akan berlabuh pada Tujuanku.. karna aku akan segera dipeluk Dzat yang kucintai dan kurindukan.."

bukankah yang demikian adalah perjumpaan yang begitu indah???

.....Ibu penantang maut kecil itu tersenyum melihat tubuh putranya yang mengalirkan anyir darah,.belasan lubang menghiasi tubuh kecilnya.
"Aku adalah salah satu ummahat paling bahagia, putraku,, kau adalah mata airku di padang masyar kelak. Duhai anakku, bukankah dekap Allah begitu nyaman? Tuhanku, dekaplah permataku yang baru saja beranjak  pulang padaMu.."

Aku tidak hendak menyoroti bagaimana kejamnya israel itu. Tapi arti keberanian, keikhlasan dan arti kematian yang berbeda. Apakah anda menangkap maksud saya?

Ayah, ibu, orang-orang yang kita cintai, dan seluruh manusia akan pulang pada titik awal dari segalanya, DIA. Lauhul Mahfudz tidak akan berbisik mengabarkan kapan,dimana, dengan cara apa Allah ingin kita pulang,. tapi 'waktu itu' telah dituliskan. Terus berusaha menjadi yang terbaik, adalah satu-satunya cara menjadikan akhir kisah kita menjadi akhir yang indah..

Mengapa takut mati??  karna tak siap. Kenapa tak siap? Sederhana saja, karna kadang lupa mempersiapkan, dunia ini melenakan. Yah,itu jugalah yang saya rasakan. Tapi ingatan tentang maut selalu mampu menampar, menggeruskan ngilu rindu, sesak linang dosa dalam sujud...

.. dingin dekap langit yang mendamaikan,, Utuh yang kucari untuk rumpang hidupku... dan muara jawaban seluruh tanya... Dia..

kebanyakan orang juga mengerjakan ibadah dengan dalil 'melaksanakan apa yang Ia perintahkan, dan menjauhi yang Ia larangkan' Betapa sempit konsep seorang hamba..

Bukankah lebih indah jika kata itu diganti,,

Karena aku mencintaiNya. Ya, bukan cinta yang sesempurna cintaNya kepadaku, tapi aku melakukan seluruh hal dalam hidupku dengan Ia ada dalam awal dan akhir langkahku, tuturku, fikirku, dan pengharapanku.. Segala yang kulakukan adalah bukti cintaku padaNya... 

Aku tahu, Ia tak butuh shalatku, Ia tak butuh puasaku, amalanku, zakatku, shodaqohku, bahkan air mata sesalku.. Tapi akulah yang membutuhkannya,.... Aku yang membutuhkan semua itu agar aku punya cara membuktikan cintaku kepadaNya...

jadi, mati bagiku bukanlah akhir,.. tapi ujung kerinduan panjangku pada Cintaku,. Muara seluruh rindu..

*****Di akhir tulisanku ini satu-satu air mataku turun membasahi pipi..
"Rabbku,,. aku masih disini.. menantikan waktu ku datang.. kapankah? semoga disaat itu,. aku dalam keadaan terbaik, dalam keadaan mengingat rindu ku kepadaMu,..

Yogyakarta,26 April 2013
Desi Liyana Dewi

Senin, 28 Januari 2013

Penari kecil ditengah hujan

        Aku memandang keluar jendela, pagi ini mendung masih memayungi angkasa, hamparan kelabu yang menahankan linangan hujan. Tak ada sedikitpun udara yang bergerak, hingga dedaun tetap pada posisinya. Dear, aku teringat sebuah kisah lama,, saat aku tidak tahu aku ini siapa, apa yang kucari, apa yang aku inginkan.. segalanya yang masih abu-abu saat itu.

" Ayah, kenapa lukisanku dibuang? " aku bertanya pasrah.

" Mau jadi apa kau ini? Pelukis? Penulis dongeng? Apa kau bisa hidup dengan itu? " amarahnya meluap seperti sungai yang meluapkan genangan hujan.
 
Aku tak bisa menjawab, yang kutahu saat itu hanyalah.. ada perasaan bahagia ketika aku bercengkrama dengan kanvas, dengan buku-buku dongeng karanganku sendiri. Tak terlintas dibenakku tentang sebuah kata bernama MASA DEPAN. Bagiku, kanvas dan dongeng-dongeng itulah DUNIAKU.

" Dongeng-dongeng itu tak akan membuatmu kenyang, BERHENTILAH MENJADI PEMIMPI BESAR! Bangun, dan jadilah orang hebat, seseorang yang mampu Ayah banggakan! " suara nyaring itu kembali menyentak.

"Tapi Ayah, orang-orang hebat juga memiliki mimpi besar. Salahkah jika aku mencintai kanvas dan dongeng-dongengku? Aku juga mampu menjadi yang hebat dengan itu."

Raut Ayah berubah sendu. "Kau tidak salah, kecintaan pada kanvas mengalir dari darah ayah padamu. Tapi, JANGAN SEPERTI AYAH..." ia berkata perlahan. "Kau harus lebih baik dari ayah. Ayah tak mampu memberimu segalanya. Karna itulah.. Hidup ini, jauh lebih kejam dari apa yang mampu kau lukis anakku.. Jadilah orang besar.. bukan dengan kanvasmu. BERJANJILAH PADA AYAH.." ia mengusap kepalaku.

Menunduk,dan mengangguk pelan aku, kemudian ayahku berlalu.

         Aku menangisi lukisanku yang tinggal robekan-robekan kecil, tercabik jemari ayahku. Senja-senja yang merah, langit yang dihiasi gumpalan-gumpalan kapas, rintik hujan yang riang menghujani gadis kecil yang sedang menari bersamanya, semuanya menjadi robekan kecil yang menghambur diudara.

                                      Ibuku hanya diam, memandangiku memunguti remah-remah rintik hujan.

Dengan perasaan hancur, kutempelkan satu-satu robekan kecil itu dengan lem seadanya, memperbaikinya semampuku. ---senyum gadis kecil ditengah hujan itu, kini berubah tangis---

                                                                     ...............

" Ummi, Desi pergi sebentar. " ucapku sembari menuntun sepeda biruku, membawanya keluar. Saat aku menutup pintu, tak ada gaung jawaban, jadi kuanggap itu jawaban 'iya'. Aku ngeloyor pergi, sementara rintik menemani kayuhan sepedaku.
Burung-burung masih sibuk hilir mudik di angkasa. Sedangkan cakrawala mulai dipenuhi noda merah. 

          Aku terus mengayuh sepedaku. Rintik itu menderas, merontoki kepalaku dengan bulir-bulir dingin bak jarum yang menusuki pori-pori tanpa ampun. Aku memutuskan berhenti sebentar, di sebuah emperan toko aku  menunggu langit puas meluapkan tangisnya.

          Memandang sekeliling, segalanya dirontoki hujan. Lapak-lapak ala kadarnya buru-buru digulung. Orang-orang kocar-kacir mencari teduh.

"Hey, mereka benar-benar ketakutan. Bukankah langit hanya mengucurkan linangan air? Aku baru sadar, manusia takut pada banyak hal, bahkan hal sepele bernama hujan. " aku bergumam pada diri sendiri.

" Dan apa yang kau lakukan di emperan toko begini? Kau tak berbeda dengan mereka! " maki ku pada seraut wajah dihadapanku, yang terpantul genangan air.

           Samar kulihat,bayangan kecil berlarian dijalanan yang lengang. Gadis kecil yang menari ditengah hujan. Ia tertawa bahagia, hanya karna buliran dingin yang merontoki tubuhnya, menimbulkan gigilan hebat. Tapi ia tertawa, menari girang seperti menertawai diriku. Menertawai diriku yang memasungkan diri dengan hal bernama KEDEWASAAN DAN REALITA.
---gadis kecil itu menyadarkanku, bahwa aku telah kehilangan kerianganku, kebebasan jiwaku..---

Aku tertegun kehilangan kata.

         Mampukah aku melepaskan belenggu itu dan menjadi diriku sendiri? Mampukah aku kesana, berlari menari bersamanya bersama keriangan dan kebabasan jiwa? Mampukah aku terus mengguratkan seribu dongeng dan melukiskan ratusan senja? 

                                                                .............................

           ---gadis kecil itu masih disana,menggigil di tengah hujan sambil tertawa. ---

"Anakku, sing ayu dewe, besuk gedhe arep dadi opo? dadi dokter opo wae keno.. sing penting ojo lali karo Bopo..." aku terperanjat. Ada lelaki tua menggendong boneka teddy kumal dalam pelukannya,berdiri tanpa sekat disampingku. Dia mengigau,semakin lama semakin lirih, lalu menangis.

"Mati.. nduk, kowe mati! " ia menjerit mengagetkanku. Membuang teddy kumalnya lalu menangis meronta.

Aku tak bisa berkata.

"Anak perempuannya mati Mbak, tertabrak seorang pengendara yang ngebut di jalan ini ketika hujan sedang deras-derasnya. Dia tetangga saya." seorang ibu memberi tahuku ketika melihat air mukaku yang kaget bukan kepalang.
Sesaat kemudian lelaki tua itu memungut kembali boneka teddynya. Menimangnya dengan sayang.

---gadis itu berhenti menari, ia terduduk menangisi ayahnya.---


                                                         ................................

          Hujan mereda, ku kayuh sepedaku pulang. Ada nyeri yang sangat menjalari ulu hatiku.
"Aku akan menjadi yang hebat Ayah,, selama aku masih memiliki waktu, aku akan menjadi yang Ayah harapkan,aku akan berjuang di jalan ini, jalan yang Tuhan pilihkan. Meski begitu Ayah,, hati dan jiwaku akan selalu bebas.. seperti beburung diatas senjaku yang mungkin tak akan bisa lagi kulukiskan. "


                                                                              Yogyakarta,29 Januari 2013




Jumat, 18 Januari 2013

Insinyur pisang coklat

...Aku ingat betul bagaimana rasanya hilang...

"Pak,menurut Bapak,hidup yang baik itu seperti apa?" tanyaku pada seorang tukang es soda gembira yang mangkal di depan sekolahku.

"Mbak Desi hanya butuh jodoh.." sahutnya sembari melengkungkan senyuman tipis yang tulus.
"Bapak becanda ya? saya masih SMA pak.." ujarku sembari melempar gelak tawa.
"Bukan itu maksud Bapak, setiap hal ada jodohnya. Bukankah Mbak Desi berjodoh dengan tulisan? " tuturnya kemudian.

Aku sama sekali tak mampu menangkap maksudnya. Ia kembali tersenyum dan melanjutkan.
"Mbak Desi, saya sebenarnya adalah seorang insinyur tamatan perguruan tinggi paling dielukan di kota kita, dan saya seorang mahasiswa tekhnik lulusan terbaik,..  saya juga pernah menjadi direktur sebuah industri besar.. tapi itu semua ternyata membuat saya hilang.."

"Desi ga ngerti maksud Bapak,, tapi Desi tak kaget mendengarnya. Pada bapak desi sering bertanya banyak hal dan bapak menjawab dengan lebih dari cukup yang Desi butuhkan. Semua pengetahuan Bapak,kadang membuat Desi bertanya-tanya siapa Bapak sebenarnya."
"Benarkah? Bapak tau Mbak Desi istimewa, hal-hal yang dianggap teman-teman Mbak Desi remeh,ternyata justru amat menarik bagi Mbak Desi." lagi-lagi dia tersenyum. "Ya,Bapak memang insinyur,mahasiswa lulusan terbaik.. tapi gerobak inilah jodoh bapak."

aku menjawab, " Apa Bapak sedang berbicara tentang kebahagiaan sejati? "
"Ya, dulu ada banyak sekali ambisi yang selangit di kepala Bapak. Tapi ada sudut hati Bapak yang melompong, merongga seperti ruang hampa yang gelap." ucapnya kemudian.

"Tapi,bukankah mimpi besar itu adalah jiwa untuk mewujudkan diri menjadi soerang yang besar? Salahkah jika Desi menginginkan menjadi yang hebat?" jawabku sembari melihat Bapak es soda gembira itu.
"Tidak, Bapak sudah katakan, setiap hal ada jodohnya. Nanti Mbak Desi akan menemukan sendiri jodoh Mbak Desi. Bisa saja,jodoh itu sesuatu yang besar." sahutnya sembari memberiku segelas susu coklat dengan potongan pisang menggerombol di bagian atas.

Asal tahu saja, aku tidak pernah memesan soda gembira. Pesanan spesial ini hanya berlaku untukku. :)

"Emmm,Desi mengerti." aku menyeruput susu pisang coklat ku,sembari melempar pandang kedepan. Melihat lapangan luas yang membentang di depan sekolah. Disudut sana,dekat pasar rakyat, ada gerombolan geng sekolahku yang sepertinya sedang merapat,memusyawarahkan aksi balas dendam pada musuhnya.

"Pak,apa itu 'jodoh' mereka?"
"Hanya itu yang bisa mereka lakukan untuk menutupi kehancuran dirinya, jiwa-jiwa yang rapuh. Mereka sedang kehilangan diri. Kadang untuk menemukan diri sendiri ,manusia menjadi orang lain dahulu baru mereka menemukan diri mereka yang sesungguhnya." singkat ia menjawab. Aku mengangguk.
Angin menelisik dingin. Sekolah sudah sepi. Hanya terlihat beberapa temanku yang melintas. Senja,juga mulai meronakan wajahnya, membiaskan siluet yang membuatnya mengabur menjadi bayangan gelap.

"Sekarang,apa Bapak merasa benar-benar bahagia?"
"Tentu, punya istri yang sangat mencintai kluarga,sholehah pula. Anak-anak yang sholeh,dan tak pernah malu punya ayah penjual es begini. Jodoh ini membuat Bapak ikhlas dan ridho pada kehidupan. Jadi,apapun cobaan yang diberikan Gusti Allah akan tetap Bapak syukuri." sahutnya "Bapak sudah punya 200 anak buah yang berjualan diseluruh Jogja. Sebenarnya saya kemari setiap hari hanya ingin mendengar Mbak Desi bertanya."

Bola mataku membesar,kali ini aku menatap Bapak itu dengan tatapan penuh.
"Ada ketulusan setiap kali Mbak Desi bertanya. Tapi entah kenapa Bapak tidak melihat ketulusan yang sama disetiap tulisan Mbak Zefana. "

"Bapak tau Zefana itu saya? sejak kapan?"

"Sejak pertama kali Bapak melihat tulisan itu di koran, 'an' itu Mbak Zefa kan?" "Tapi sayangnya,tidak ada jiwa ditulisan Mbak Zefa, hanya larik-larik yang sangat sempurna."

"Itu benar....." ucapku lirih,meneguk susu coklatku sampai habis.
"Semoga,Mbak Zefa menemukan jiwa itu.. jiwa tulisan Mbak Zefa.." ucapnya mengakhiri percakapan.

Dalam langkah kecilku,aku menunduk. Setiap kali aku bertanya kepadanya,aku selalu membawa pulang tanda tanya besar. Beribu pertanyaan baru yang harus kutau jawabannya darinya.

                                                              ............................
Sekarang sudah nyaris setahun aku tak melihat bangunan tua sekolahku. Kemarin,kusempatkan melihat tumpukan kenangan itu.Bapak itu tak lagi disana. Sepi. Hanya angin yang masih memelukku,sama dinginnya.

Aku memacu motorku perlahan melewati lapangan rumput depan sekolah.
"Kemana insinyur coklat pisangku?" hatiku bertanya menelisik..

Sebuah mobil Avanza mengkilat melewatiku. Jendelanya terbuka. Seorang bapak berbaju bak politisi itu amat kukenal,rambutnya yang keriting, senyumannya yang tulus,.. Ia menyetir dan bergurau bersama seorang perempuan cantik dan kedua bocah lelaki yang tertawa-tawa. "Insinyur.... insinyur pisang coklatku.... Ya,itu dia!! benar-benar dia!! " hatiku berteriak begitu bahagia.

Sebelum aku memanggilnya,ia sudah jauh melewatiku. Teriakku terbawa angin.... angin yang masih memelukku dengan dingin yang sama...

.........
"Pak,hari ini Desi menemukan jiwa itu,jiwa tulisan Desi..." aku menahan air yang panas menggelinding dari pelupuk..